Rabu, 05 September 2012

REVIEW JURNAL

Review Jurnal
Jurnal Penelitian Dan Pemikiran Pendidikan, Volume 1, Nomor 1, September 2011

ANALISIS PENGELOLAAN PRAKTIKUM BIOLOGI DI LABORATORIUM BIOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Atok Miftachul Hudha
Perndidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang
e-mail: atok_umm@yahoo.com

Abstract : This study aims at investigating the biology practicum management at the laboratory of Biology FKIP-UMM. 110 semester II, IV, and VI students at the academic year 2008/2009 are taken as the samples employing accidental sampling technique. Questionnaire is used together the data before they are analyzed using descriptive qualitative analysis. To complete and clarify the data, the head of the department of Biology laboratory are interviewed. It is found that there are some weaknesses related to the management based on the student expectations. They include the facilities and practicum management model. This conditions bring the effects on the student’s attitude and create the problems to the laboratory assistants. The students are lazy to take practicum materials, consult the practicum result to the laboratory assistant, and hand in the paper promptly. Besides, the students like to the underestimate the laboratory assistant because they consider the laboratory assistants do not have enough knowledge related to the material for practicum. The student rarely get satisfied information from the laboratory assistant related to the practicum material that they have never got in class.

Keywords: management analysis, Biology practicum, Biology laboratory.

    Laboratorium dibangun berdasarkan suatu kesadaran penuh bahwa pembelajaran di laboratorium mempunyai posisi penting dalam pendidikan, karena dalam rangka mencapai tujuan yang bersifat multi dimensi dalam proses pembelajaran, diperlukan strategi pembelajaran yang memadai.
    Pelaksanaan kegiatan praktikum bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi FKIP UMM dilaksanakan di Laboratorium Biologi UMM maupun di lingkungan luar kampus adalah untuk membuktikan, memahami, mengamati, dan juga menemukan hal-hal baru sesuai dengan teori yang diterima di kelas.
    Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mendeskripsikan tanggapan mahasiswa praktikan terhadap pengelolaan kegiatan praktikum biologi pada Laboratorium Biologi UMM. 2. Mendeskripsikan tanggapan mahasiswa praktikan terhadap ketersediaan sarana dan prasarana praktikum yang disediakan di Laboratorium Biologi UMM. 3. Mendeskripsikan model pengelolaan praktikum yang dianggap ideal oleh mahasiswa praktikan dalam dalam setiap kegiatan praktikum biologi di laboratorium Biologi UMM. 4. Mendeskripsikan kendala yang dihadapi oleh asisten praktikum biologi dalam pelaksanaan praktikum Biologi di Laboratorium Biologi UMM.
    Manfaat yang dimaksudkan dari penelitian ini adalah peningkatan pengelolaan kegiatan praktikum Biologi pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi FKIP –UMM oleh instruktur dan asisten praktikum, tersedianya sarana dan prasarana praktikum yang memenuhi kebutuhan mahasiswa praktikan dari Jurusan Pendidikan Biologi FKIP-UMM, serta terjadinya kesesuaianmateri praktikum dengan materi perkuliahan di kelas.
METODE
    Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang ingin menggambarkan tentang suatu fenomena yang terjadi pada objek penelitian, dan dari hasil penelitian terhadap fenomena tersebut dapat diperoleh gambaran sesungguhnya tentang hal yang terjadi pada objek penelitian.
    Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi UMM selama 6 Bulan (bulan Pebruari-Juli 2009) dengan populasi seluruh mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi FKIP-UMM yang duduk di semester Genap 2008/2009 yang berjumlah 400 orang. Dari jumlah tersebut, sampel yang diambil sebanyak 110 orang dengan menggunakan accidental sampling.

Pembahasan
    Berdasarkan analisis data terhadap persentase jawaban responden pada setiap item pertanyaan dalam kuisioner diperoleh:
1.    Tanggapan Mahasiswa terhadap pelaksanaan praktikum Biologi  di Laboratorium Biologi UMM belum sesuai harapan mahasiswa (73,6%), hal ini disebabkan oleh: a. kurang kondusifnya ruang laboratorium (56,4%), b. materi praktikum tidak sinergis dengan teori di kelas, c. pola pembimbingan asisten yang belum efektif (51,8%); d. pola pembimbingan instruktur yang yang belum efektif (48,2%); e. jumlah asisten yang kurang dalam tiap kelas. 
2.    Peran dan efektifitas Bimbingan instruktur dan asisten. Hasil konfirmasi yang dilakukan ketua jurusan Pendidikan Biologi FKIP –UMM dan kepala Laboratorium Biologi diketahui ternyata kendala yang dihadapi oleh instruktur adalh kesulitan membagi jam antara member praktikum dengan tugas lainnya, sebab beberapa instruktur bertugas sebagai structural pada fakultas. Akibat dari hal ini sebanyak 48,2% responden menyatakan pembimbingan instruktur kurang efektif.
3.    Kondisi Peralatan dan Bahan Praktikum di Laboratorium Biologi UMM. Terhadap kondisi peralatan dan bahan yang digunakan untuk pelaksanaan praktikum sebanyak 60% responden menyatakan cukup layak dan masih relevan digunakan praktikum. Berdasarkan keadaan alat-alat praktikum yang demikian itu 68,2% menyatakan tidak mencukupi jumlahnya dengan rasio mahasiswa praktikum . ketersediaan bahan praktikum 53,6% responden menyatakan bahan praktikum tidak mencukupi jumlahnya untuk kegiatan praktikum disbanding dengan rasio mahasiswa praktikan.
4.    Tanggapan asisten terhadap peran instruktur : para responden terdiri dari 12 orang asisten praktikum biologi, menyatakan bahwa selama ini hanya 4 responden asisten (33,4%) saja yang selalu mendapat bimbingan pengayaan materi dari instruktur sedangkan 8 orang responden (66,7%) menyatakan kadang-kadang mendapat bimbingan dari instruktur
HAL YANG BELUM  TERUNGKAP
    Tidak adanya dibahas syarat- syarat atau ketentuan seorang asistem praktikum di laboratorium Biologi UMM dan tidak ada dibahas tentang keberadaan laboran pada Laboratorium Biologi UMM.
KESIMPULAN
    Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Pengelolaan kegiatan praktikum biologi bagi mahasiswa praktikan dari Jurusan Pendidikan Biologi FKIP-UMM belum sesuai dengan harapan mahasiswa disebabkan oleh : kurang kondusifnya ruang laboratorium, materi praktikum tidak sinergis dengan teori di kelas, pola pembimbingan asisten yang belum efektif , pola pembimbingan instruktur yang belum efektif,  jumlah asisten yang kurang dalam tiap kelas, penyediaan sarana dan prasarana yang belum memenuhi harapan, dan model pengelolaan praktikum yang dianggap kurang ideal. Dan berbagai kendala – kendala yang dihadapi para asisten daam mendampingi para mahasiswa praktikan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Tugas Pengelolaan Praktikum.Yogyakarta: Lab. Kimia Dasar FMIPA
UGM.
Anonim. 2010. Pengelolaan Laboratorium TIK. Materi Ajar Prodi Teknologi
Pendidikan FIP UPI.
Dendie. 2010. Training Aplikasi Komputer.(Online). (http://dendieisme.blogspot.com/2010/06/training-aplikasi-komputer.html/
,     diakses 5 Agustus 2010).
Hardjoeno. 2002. Organisasi dan Tata KerjaLaboratorium Klinik Rumah Sakit.
Dipresentasikan dalam PelatihanNasional Manajemen Laboratorium Klinik Rumah Sakit, Jakarta, 20 Juni2002.
Hudha, A. M. 2000. Petunjuk Praktikum Invertebrata.Malang: Laboratorium Biologi UMM.
Hudha, A. M. 2002. Penyelenggaraan Praktikum pada Mahasiswa JurusanPendidikan Biologi FKIP UMM. Laporan Penelitian. Malang: Lemlit UMM.
Hudha, A. M. 2008. Pengelolaan Praktikum di Laboratorium. Makalah Lokakarya
FIKES UMM.
Hamalik, O. 2001. Proses Belajar Mengajar.Jakarta: Bumi Aksara.
McLagan, P. & Nel, C. 1995. The Age of Participation,New Governance for the Work Place and the World. San Fransisco: Bernett Koehler Publisher.
Purwanti, E. 1996. Metodologi dan Instrumentasi.Makalah Lokakarya Penelitian
Dosen FKIP Universitas MuhammdiyahMalang Tahun 1996.
Purwanti, E. 2000. Pengantar MetodologiPenelitian. Malang: UMM Press.
Rahayuningsih, E. & Dwiyanto, D. 2005. Pembelajaran di LaboratoriumYogyakarta: Pusat PengembanganPendidikan UGM.
Sarojo, J. R. 1994. Model-model Penelitian. Makalah Seminar Metodologi Penelitian
Program Studi Manajemen Pendidikan PPS IKIP Malang.
Sugiharto, B. 2008. Optimalisasi PengelolaanLaboratorium IPA SMP. Semarang: FKIP
UNS.
Sumintono, B. 2008. Tujuan Pengajaran Sains di Laboratorium. (Online). (http://netsains.com/2008/03/tujuanpengajaran-sains-di-laboratorium/
,     Diakses tanggal 2 Agustus 2009).
Sumintono, B. 2008. Pengalaman danInvestigasi dalam Pengajaran Sains di
Laboratorium. (Online). (http://netsains.com/2008/04/pengalaman-daninvestigasi-dalam-pengajaran-sains-dilaboratorium/
,Diakses tanggal 20Agustus 2009).
Suyanta. 2010. Manajemen Operasional Laboratorium. Yogyakarta: Jurusan
Pendidikan Kimia FMIPA UniversitasNegeri Yogyakarta.
The White House Domestic Policy Council.1993. Health Security. The Official Text.
Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Zaenab, S. & Purwanti, E. 2000. Modul Pengelolaan Laboratorium IPA. Malang: FKIP Universitas Muhammadiyah Malang.



           







Rabu, 29 Agustus 2012

Makalah Filsafat

Makalah

FILSAFAT, FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN, ILMU PENGETAHUAN, PENGETAHUAN, BIOLOGI, PENDIDIKAN BIOLOGI DAN AGAMA


BAB I
Pendahuluan

Pada hakekatnya semua yang ada di alam ini sudah sejak awal menjadi pemikiran dan teka-teki yang tak habis-habisnya diselidiki dan inilah yang menjadi fundamen timbulnya filsafat. Manusia mempunyai keistimewahan dari makhluk-makhluk yang lain, ia diciptakan oleh Allah SWT begitu sempurna dan kesempurnaan ini manusia dapat meningkatkan kehidupannya. Dengan berpikir atau bernalar, merupakan satu bentuk kegiatan akan manusia melalui pengetahuan yang kita terima melalui panca indra diolag dan ditunjukan untuk diri sendiri dengan manifestasinya, ialah mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, menunjukan alasan-asalan, membuktukan sesuatu, menggolong-golongkan, membanding-bandingkan, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pemikiran, mencari kausalitasnya, membahas secara realitas dan lain-lain (Salam, 1988:1). Sesuai dengan makna filsafat, yaitu sebagai ilmu yang bertujuan untuk berusaha memahami semua yang timbul dalam keseluruhan lingkup pengalaman manusia, maka berfilosofis memerlukan suatu ilmu dalam mewujudkan pemahaman tersebut.
Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu yang besar, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu.Berfilsafat berarti berendah diri bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berartimengoreksi diri, semacam keberanian berterus terang, seberapa jauh sebenarnyakebenaran yang dicari telah kita jangkau.
    Peran filsafat dalam dunia pendidikan adalah memberi kerangka acuan bidang filsafat pendidikan guna mewujudkan cita-cita pendidikan yang diharapkan oleh suatu masyrakat atau bangsa. Karna itu, tak heran bila filsafat pendidikan yang terdapat pada suatu Negara dipengaruhi oleh filsafat hidup yang menjadi anutan bangsa di Negara tersebut.
    Biologi berasal dari bahasa yunani yaitu, “bios” yang artinya hidup, logos  yang berarti ilmu. Jadi “Biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sesuatu yang hidup beserta masalah-masalah yang menyangkut kehidupan.

BAB II

1.    Pengertian Filsafat
    Kata falsafah atau filsafat berasal dari bahasa Yunani. Kata Filsafat berasal dari kata philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata (philia = cinta dan Sophia = kebijaksanaan). Sehingga secara harfiahnya, filsafat adalah seorang yang cinta kebijaksaaan. Dalam bahasa Indonesia, seseorang yang mendalami bidang filsafat disebut “ filsuf”(http ://id.wikipedia.org/wiki/filsafat).
    Filsafat dibutuhkan manusia dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai lapangan kehidupan manusia. Jawaban ini merupakan hasil pemikiran yang sistematis , integral, menyeluruh dan mendasar. Jawaban seperti ini juga digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang menyangkut berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk bidang pendidikan.
    Dengan demikian, pemikiran filosofis itu berbeda dengan pemikiran yang lain. Pemikiran yang bersifat filosofis setidaknya memiliki cirri-antara lain tertuju pada upaya untuk mengadakan pemeriksaan dan penemuan. Disamping itu, berpikir filosofis adalah berpikir radikah dengan menggunakan kemampuan yang optimal dari akal budi manusia.
2.    Pengertian filsafat ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan dan pengetahuan
Filsafat ilmu pengetahuan adalah sebuah upaya pemikiran mendalam untuk memahami makna, metode, struktur logis dari ilmu pengetahuan, terutama dengananalisis kriteria, konsep-konsep dan teori-teori yang ada di dalam ilmu pengetahuan,serta efek-efeknya bagi pengetahuan manusia dan dampaknya pada refleksi etistentang berbagai problema serta aksesnya dalam kehidupan manusia. Filsafat ilmu pengetahuan bersifat analitis dan reflektif, bukan empiris dan eksperimental.
Secara etimologis, kata ilmu berasal dari bahasa latin scire  yang artinya to know, juga merupakan terjemahan dari kata science. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan objektif. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara objektif, tujuannya untuk menggambarkan dan member makna tehadap dunia factual. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu, diperolehnya melalui observasi, eksperimen,klasifikasi dan analisis. Ilmu itu objektif dan mengenyampingkan unsur pribadi, mengutamakan logika, netral (tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian) karena dimulai dengan fakta : ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif (Salam, 1997).
Ilmu pengetahuan adalah serangkaian pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan penyelidikan, pengalaman (empiris) dan percobaan (eksperimen)yang didukung oleh bukti nyata serta dapat dipertanggung jawabkan secara rasional. Ilmu pengetahuan hanya dibatasi pada kejadian yang bersifat empiris (pengalaman).
Kriteria suatu ilmu pengetahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
a.    Dapat diuji secara intersubyektif. Artinya hasil dari ilmu yang telah lalu dapat dipergunakan untuk penyelidikan dan penemuan hal-hal yang baru, setiap orang dapat menggunakan, memanfaatkan hasil penyelidikan atau hasil penemuan orang lain.
b.    Dapat dipercaya (pernyataan & teorinya). Artinya ilmu pengetahuan dapat dipercaya, tidak mengada-ada, teruji dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan rasional.
c.    Tidak bersifat ambigu tetapi jelas dan tepat. Artinya prosedur cara penggunaan metode ilmu jelas dan tepat, tidak tergantung kepada yang menggunakannya, tidak tergantung kepada pemahaman secara pribadi.
d.    Koheren dan sistematik. Artinya ilmu memiliki metode ilmiah secara sistematik, rasional, dan teratur yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya untuk memperoleh suatu hasil.
e.    Cakupan terbatas dan komprehensif (memiliki daya penjelas yang kuat dan penjelasannya lengkap). Artinya kebenaran tidak mutlak, dan bias terjadi kekeliruan karena yang menyelidikinya manusia. Kesalahan-kesalahan yang terjadi bukan karena kesalahan metode namun karena kesalahan manusia yang menggunakan metode itu.
Pengetahuan adalah persepsi subyek (manusia) atas berbagai obyek yang ada di alam semesta tanpa penyelidikan lebih lanjut.  Pengetahuan hanya terbatas  pada apa yang diketahui saja. Kebenaran dari pengetahuan perlu dipertanyakan kembali.
3.    Pengertian Biologi dan Pendidikan Biologi
Secara etimologis, kata Biologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu bios yang artinya hidup dan logos artinya ilmu. Jadi biologi berarti ilmu yang mempelajari tentang hidup dan masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan. Objek kajian ilmu biologi itu sangat luas dan mencakup semua makhluk hidup, sehingga dibuatlah cabang ilmu biologi zoology, anastesi, histology, eolusi entomologi, genetika, fisiologi, anatomi, dan lain sebagainya.
Hubungan biologi dengan filsafat ilmu pengetahuan adalah dengan adanya filsafat ilmu pengetahuan yang mengktisisasi dan memikirkan efek-efek ilmu biologi dan perkembangannya bagi pengetahuan manusia dan dampaknya terhadap refleksi etis tentang berbagai problema serta akses pemanfaatannya dalam kehidupan manusia, maka biologi dapat bermanfaat secara efektif dalam kehidupan umat manusia. Atau dengan kata lain, filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam dan spesifik tentang hakikat ilmu.
Biologi kini merupakansubyek pelajaran sekolah dan universitas di seluruh dunia, dengan lebih dari jutaan makalah dibuat setiap tahun dalam susunan luas jurnal biologi dan kedokteran. Hal ini juga mendukung perkembangan ilmu pendidikan biologi, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bagaimana hubungan pendidikan dengan biologi, bagaimana cara mempelajari dan mengajarkan biologi dengan baik dan benar, baik  pada institusi pendidikan formal maupun non formal.

4.    Pengertian Agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti "tradisi".. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Agama).
Sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhandengan cara menghambakan diri , yaitu :
a.    Menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasaldari Tuhan
b.    Menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dan lain sebagainya yang diyakini berasal dari Tuhan
Oleh karenanya  agama memiliki ruang lingkup pengkajian hal-hal yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia. Contohnya, manusia meyakini adany surge dan neraka, namun akal dan fikirannya tak mampu untuk menemukan keberadaannya sekarang.
Agama dan ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang sangat erat yaitu dengan adanya agama sebagai basic control bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang berdampak pada kehidupan, maka manusia mampu mengontrol penggunaan ilmu pengetahuan  secara wajar dan positif.

5.    Teori Kebenaran menurut pendangan filsafat dalam bidang  ontologis, epistomologis dan aksiologi

A.    Ontologi
Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1.    kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2.    Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme. (http://id.wikipedia.org/wiki/Ontologi).
B.    Epistomologis
Epistemologi pertama kali dipakai oleh J.F. Ferier di abad 19 di dalam Institut of metaphisics (1854). Pencipta sesungguhnya adalah Plato sebab beliau telah berusaha membahas pertanyan dasar, seperti apakah panca indra dapat memberikan pengetahuan, dapatkah akal menyediakan pengetahuan.
The Encyclopedia of Philosophi mendefinisikan epistemologi sebagai cabanga filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dari ruang lingkup pengetahuan pra-anggapan-pra-anggapan dan dasar-dasarnya serta realitas umum, dari tuntunan akan pengetahuan sebenarnya. Epistemologi ini adalah nama lain dari logika meterial atau logika mayor yang membahas dari isi pikiran manusia yakni pengetahuan (Dardini, 1986: 18).
C.    Aksiologi
Aksiologi, yaitu suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value). Brameld membedakan tiga bagian di dalam aksiologi, yaitu:
·    Moral Conduct, tindakan moral; bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni etika.
·    Esthetic Expression, ekspresi keindahan; yang melahirkan estetika.
·    Socio-political Life, kehidupan sosial-politik, bidang ini melahirkan ilmu filsafat sosio-politik
Nilai dan implikasi aksiologi ialah menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut di dalam kehidupan manusia dan membinanya di dalam kepribadian manusia. Kerena untuk mengatakan sesuatu itu bernilai baik, bukanlah suatu yang mudah. Apa lagi menilai dalam arti yang mendalam untuk membina dalam kepribadian ideal.
6.    Persamaan dan perbedaan Filsafat, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan, Pengetahuan, Biologi dan Pendidikan Biologi serta Agama.

    Persamaan    Perbedaan      
Objektif    Sama-sama mencari kebenaran          
Sumber    Filsafat, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan, Pengetahuan, Biologi dan Pendidikan Biologi berasal dari sumber yang sama akal, budi, ratio, reason,dan vernuft.    Agama berasal dari wahyu dari Tuhan (Allah)      
Metode    ·    Filsafat dan filsafat ilmu pengetahuan: Mengekplorasi akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal + unsur logikanya.
·    Ilmu pengetahuan, biologi dan pendidikan biologi : penyelidikan, pengelaman dan percobaan observasi (metode ilmiah).    ·    Pengetahuan : pemahaman mendasar dan terbatas yang belum mendalam
·    Agama : mempelajari kitab suci      
Sifat Kebenaran    ·    Filsafat, filsafat ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan, pengetahuan, biologi dan pendidikan biologi memiliki kebenaran yang bersifat nisbi (relative)     Agama memiliki nilai kebenaran mutlak (absolute)      
Kebenaran    ·    Filsafat, filsafat ilmu pengetahuan, pengetahuan: spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset dan eksperimen
·    Ilmu pengetahuan, biologi, dan pendidikan biologi : positif (dapat dibuktikan secara empiris, riset, dan eksperimen)    Agama memiliki nilai kebenaran mutlak (absolute)      
Faktor/Motivasi    ·    Filsafat, filsafat ilmu pengetahuan,ilmu pengetahuan, pengetahuan, biologi dan pendidikan biologi: dimulai dengan sangsi/tidak percaya dan rasa ingin tahu yang besar.    Agama dimulai dengan sikap percayadan iman   

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Filsafat, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan, Pengetahuan, Biologi dan Pendidikan Biologi serta Agama memiliki persamaan yaitu sama-sama mencari kebenaran namun sumber, metode,sifat dan factor/motivasi mencari kebenarannya yang berbeda.
Filsafat dan ilmu pengetahuan memiliki keterkaitan yang sangat erat. Filsafat ilmu pengetahuan sangatlah tepat dijadikan landasan pengembangan ilmu pengetahuan. Karena Filsafat ilmu pengetahuan adalah sebuah upaya pemikiran mendalam untuk memahami makna, metode, struktur logis dari ilmu pengetahuan, terutama dengan analisiskriteria, konsep-konsep dan teori-teori yang ada di dalam ilmu pengetahuan, serta efek-efeknya bagi pengetahuan manusia dan dampaknya pada refleksi etis tentang berbagai problema serta aksesnya dalam kehidupan manusia. Sedangkan agama merupakan basic control bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang berdampak bagi kehidupan.


DAFTAR PUSTAKA
Anshari, E.S, Wawasan Islam, Jakarta : CV. Rajawali, 1984.
Dardini, A.H. Humanoria, Filsafat dan Logika, Jakarta : CV. Rajawali, 1986.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Agama)
(http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat)
(http://id.wikipedia.org/wiki/Ontologi
Jalaluddin, H, dan Idi, Abdullah, Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat dan Pendidikan,  Jakarta : PT Gaya Media Pratama, 2002, Cet. ke-2.
Salam, B, Filsafat Manusia Antropologi Metafisika, Jakarta : PT. Bina Aksara, 1988.
Salam, B. 1997. Logika Matriil : Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta : PT Rineka Cipta